Katalis itu bernama "kegagalan"
Setiap manusia takkan pernah ingin gagal, namun mungkin gagal adalah katalis terbaik untuk kita bereaksi.Awal 2018, menjadi satu titik katalis ini bekerja. Proposal LKTI ku ditolak, 2 proposal PKM yang kuajukan tak ada yang lolos didanai. Mencoba daftar beasiswa, gagal di tahap 2. Beberapa hari setelahnya HPku ilang, dan dirumah sedang susah ekonomi, gagal panen. Kontrakan harus dibayar beberapa bulan lagi, bidikmisiku belum turun.
Sungguh nikmat yang tak pernah terbayangkan. Aku harus apa ? Aku baru dilantik jadi PH sebuah BSO dan masih jabat amanah PI di KM, akademik memasuki semester 4 banyak tugas.
Terlalu takut aku membayangkan apa yang terjadi kedepannya, dan terlalu terluka melihat kegagalan yang melanda. Tapi Allah punya banyak cara untuk menolong hamba-Nya.
Apabila apa yang ada di depan membuatmu takut, dan apa yang ada dibelakang membuatmu luka.
Lihatlah ke atas, Allah tidak pernah gagal menolongmu"(Dewi Nur Aisyah)
Di tengah hempitan ekonomi, aku tetap berusaha buat ikutan lomba, dengan ide modern perban untuk penderita ulkus diabetikum. Mengejar dosen pembimbing bolak-balik ke rektorat dan hotel2 di Jogja buat bimbingan, Karena belum dapat materi ini dikuliahkan smster 4.
Alhamdulilah.
Lolos! Ke Makassar. Masalah selanjutnya. Dana ke Makassar dari mana ? HP gak ada. Nanti komunikasinya gimana ya? Mau mundur ah !
Hati berat! Tidak! aku sudah berusaha keras takkan ku hanya mau jadi org gagal sejati, Allah tidak ridho dengan orang yang mudah menyerah!. Ini kesempatan belajar dan sebuah ikhtiar menyebarkan ilmu dan menunjukan muslimah juga bisa berkontribusi lewat keilmuan. Hanya bisa berikhtiar cari dana fakultas, universitas, alumni dan sponsor lainnya.
2 Minggu sebelum berangkat. UTS. Dan alhamdulilah Uang bidikmisiku turun, dan langsung 6 bulan. Alhamdulilah bisa beli HP dan ikut lomba ke Makassar ,dengan pertaruhan uang makan 6 bulan. Di saat itu juga di tawarin kating buat gabung tim LKTInya ttg katalis untuk meningkatkan efisiensi pembuatan bioetanol dari jerami padi. Tanggal persentasinya beda sehari dengan di Makassar. Di saat itu juga aku melihat poster lomba essai, ah semangat ini Allah mudahkan untuk menyelesaikan essai ditengah kepadatan UTS saat itu.
Seminggu mempersiapkan presentasi 2 lomba sekaligus dengan selisih cuma sehari. 3 hari sebelum presentasi ke Makassar aku dapat pemberitahuan esaiku berhasil juara 3 di Unida Gontor. Dan penganugerahannya di hari setelah presentasi ke Makassar.
Presentasi pertama di UMY, tidak banyak persiapan sebenernya hanya ikhtiar melakukan yang terbaik dan menjaga niat. Presentasi lomba pertamaku sepanjang hidupku.... Alhamdulilah tak disanggka lancar, dikira udah jago presentasi malah. Dan alhamdulilah Juara 1.
Malamnya langsung terbang ke Makassar. Esoknya presentasi , sorenya sudah harus terbang ke Surabaya dan lanjut ke Ponorogo sendiri. (Padahal ini pertama kali aku naik pesawat). Malamnya pengumuman alhamdulilah juara 2.
Dan akhirnya aku bisa tidur dengan syukur begitu banyak kepada Allah. Bisa ganti uang Bidikmisi, dalam batinku .
Aku tidak hebat, aku tidak jago bicara juga, tidak pintar juga tapi Allah yang menolong semua dan memudahkan langkah ini, tangan ini, bibir ini untuk bertawakal kepada-Nya.
Jangan pernah takut gagal. Karena kegagalan yang sejati adalah tidak pernah mencoba.
Next bakal sharing ttg berjuang di perkuliahan tahun pertama Ani. IPK ku pernah dibawah 3..
