Penuntut Ilmu yang Merugi
Pendidikan adalah sebuah hal yang penting ditengah-tengah masyarakat. Ada yang bilang pendidikan pemutus rantai kemiskinan, bahkan Nelson Mandala mengatakan " pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa digunakan untuk menguba dunia". Bagi seorang muslim wajib hukumnya menuntut ilmu (H.R Muslim). Namun berbicara pendidikan bukan hanya kesempatan akses pendidikan namun tentangbahasan kurikulum pendidikan.
Karena pendidikan bukan soal ijazah tapi ilmu dan akhlak.
"Siswa berantem dengan guru, menghina guru", pernyataan yang sering terdengar dipemberitaan. Bahkan ada siswa bunuh guru, innalilahi mengerikan sekali.
Atau malah penyataan "guru perkosa siswanya"
Na'uzubilah ketika ilmu tidak dimuliakan dan guru tidak dihormati.
Imam Az-Zarnuji mengatakan dalam kitab Ta'lim Muta'lim " seorang pelajar tidak akan memperoleh ilmunya dan mengambil manfaat dari ilmu tersebut, kecuali dengan memuliakan ilmu dan menghormati guru"
"Dasar orang tidak berpendidikan, tidak bisa dikompromi !"
Aku masih kata2 itu yang dilontarkan Sorang pejabat desa ke bapak. Jadi bapak diamanahkan saudara menjaga tanah, namun karena yang punya di Jakarta. Ada pejabat yg sewenang-wenang merusak terhadap tanah tersebut dan menggangu masyarakat.
Apakah dengan pendidikan, semua perilaku bisa dikompromi ?
Bapak dan Mama tidak berkesempatan mengenyam pendidikan, bahkan lulus SD pun tidak. Bapak adalah orang yang sangat menjaga kepercayaan orang terhadap dirinya, dan selalu menghormati guru beliau SD. Walau tidak lulus pendidikan formal, bapak orang berpengetahuan sangat luas. Di tanya tentang geografis, ilmiah, politik, ekonomi bapak masih nyambung dan kadang tepat jawabannya, begitu pun mama. Bapak dan Mama sangat memuliakan ilmu yang mereka dapat entah dari guru siapapun, mereka juga sangat mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya, adab dan akhlak adalah perioritas mereka. Pendidikan membawa pada kemajuan pola pikir, seyogya nya sinergis dengan adab dan akhlak kata mereka. Mereka tidak bisa berpendidikan karena ekonomi, tapi bukan berarti tidak beradab dan berakhlak.
Jadi ingat cerita seorang pemuda yang mau daftar Sekdes desa sebelah, hasil CPNS nya nilai tertinggi, namun karena ada saudara penjabat desa yg juga sudah sarjana, namun nilai CPNS nya lebih rendah ingin jadi sekdes juga. Pemuda yang nilai tertinggi itu disuruh mundur, dan akhirnya tidak jadi sekdes.
Orang berpendidikan tanpa banyak uang akan kalah dengan orang "berpendidikan" punya banyak uang.
Ah ironinya seperti itu di kehidupan desa. Pendidikan dijadikan mensukseskan kewenangan. Semoga ini hanya terjadi di desa saya dan beberapa desa disekitarnya.
Semoga kedepannya penyakit-penyakit pendidikan dapat terobati. Bukan hanya kesempatan pendidikan formal yang diprioritaskan namun kualitas dari pendidikan tersebut juga menjadi prioritas.
Selamat Hari Pendidikan
Karena pendidikan bukan soal ijazah tapi ilmu dan akhlak.
"Siswa berantem dengan guru, menghina guru", pernyataan yang sering terdengar dipemberitaan. Bahkan ada siswa bunuh guru, innalilahi mengerikan sekali.
Atau malah penyataan "guru perkosa siswanya"
Na'uzubilah ketika ilmu tidak dimuliakan dan guru tidak dihormati.
Imam Az-Zarnuji mengatakan dalam kitab Ta'lim Muta'lim " seorang pelajar tidak akan memperoleh ilmunya dan mengambil manfaat dari ilmu tersebut, kecuali dengan memuliakan ilmu dan menghormati guru"
"Dasar orang tidak berpendidikan, tidak bisa dikompromi !"
Aku masih kata2 itu yang dilontarkan Sorang pejabat desa ke bapak. Jadi bapak diamanahkan saudara menjaga tanah, namun karena yang punya di Jakarta. Ada pejabat yg sewenang-wenang merusak terhadap tanah tersebut dan menggangu masyarakat.
Apakah dengan pendidikan, semua perilaku bisa dikompromi ?
Bapak dan Mama tidak berkesempatan mengenyam pendidikan, bahkan lulus SD pun tidak. Bapak adalah orang yang sangat menjaga kepercayaan orang terhadap dirinya, dan selalu menghormati guru beliau SD. Walau tidak lulus pendidikan formal, bapak orang berpengetahuan sangat luas. Di tanya tentang geografis, ilmiah, politik, ekonomi bapak masih nyambung dan kadang tepat jawabannya, begitu pun mama. Bapak dan Mama sangat memuliakan ilmu yang mereka dapat entah dari guru siapapun, mereka juga sangat mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya, adab dan akhlak adalah perioritas mereka. Pendidikan membawa pada kemajuan pola pikir, seyogya nya sinergis dengan adab dan akhlak kata mereka. Mereka tidak bisa berpendidikan karena ekonomi, tapi bukan berarti tidak beradab dan berakhlak.
Jadi ingat cerita seorang pemuda yang mau daftar Sekdes desa sebelah, hasil CPNS nya nilai tertinggi, namun karena ada saudara penjabat desa yg juga sudah sarjana, namun nilai CPNS nya lebih rendah ingin jadi sekdes juga. Pemuda yang nilai tertinggi itu disuruh mundur, dan akhirnya tidak jadi sekdes.
Orang berpendidikan tanpa banyak uang akan kalah dengan orang "berpendidikan" punya banyak uang.
Ah ironinya seperti itu di kehidupan desa. Pendidikan dijadikan mensukseskan kewenangan. Semoga ini hanya terjadi di desa saya dan beberapa desa disekitarnya.
Semoga kedepannya penyakit-penyakit pendidikan dapat terobati. Bukan hanya kesempatan pendidikan formal yang diprioritaskan namun kualitas dari pendidikan tersebut juga menjadi prioritas.
Selamat Hari Pendidikan
